SENTANI | Papuareels.id – Kehadiran Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Papua di Kabupaten Jayapura tidak hanya menambah jumlah perguruan tinggi di Tanah Papua, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam menyiapkan guru-guru yang memahami budaya, adat istiadat, dan kebutuhan masyarakat Papua.
Hal tersebut mengemuka dalam peluncuran STKIP Papua dan penyerahan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 564/B/O/2026 tentang Izin Pendirian STKIP Papua yang berlangsung di Hotel Suni Sentani, Senin (8/6/2026).
Ketua STKIP Papua, Edison Awoitauw, mengatakan kampus yang dipimpinnya hadir untuk menjawab kebutuhan tenaga pendidik berkualitas di berbagai wilayah Papua sekaligus memperkuat pendidikan yang berakar pada konteks sosial dan budaya masyarakat setempat.
Menurut Edison, selama ini banyak generasi muda Papua harus meninggalkan daerahnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Kehadiran STKIP Papua diharapkan membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan tanpa harus keluar dari Papua.
"Kami ingin berkontribusi membangun sumber daya manusia di bidang pendidikan sehingga dapat menyuplai tenaga-tenaga guru di beberapa provinsi yang berada di Tanah Papua," ujarnya.
Pada tahap awal, STKIP Papua membuka Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dengan target menerima 80 mahasiswa baru pada angkatan pertama. Perkuliahan dijadwalkan mulai berlangsung pada September 2026.
Edison menjelaskan, proses pengembangan kampus juga terus berjalan. Saat ini pihaknya telah membangun tiga gedung sebagai tahap awal, sementara kampus permanen akan dibangun di wilayah Dosai, Distrik Sentani Barat. Untuk sementara, aktivitas administrasi kampus dilakukan di Doyo Baru.
Ia menambahkan, STKIP Papua telah menyiapkan tenaga pengajar yang akan mendukung proses pembelajaran, termasuk sejumlah akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
"Kami sudah memiliki dosen-dosen yang siap mengajar, termasuk beberapa dosen dari UGM yang akan mendukung proses pembelajaran," katanya.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah XIV Papua, Dr. Suriel Samuel Mofu, menilai kehadiran STKIP Papua menjadi langkah penting dalam memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Papua.
Menurutnya, kampus keguruan memiliki peran strategis dalam mencetak tenaga pendidik yang memahami kondisi daerah dan mampu menghasilkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakter masyarakat Papua.
"Guru-guru yang dididik di sini akan memahami konteks lokal, adat istiadat, dan budaya masyarakat setempat. Mereka nantinya dapat menghasilkan materi pembelajaran yang relevan sehingga budaya Papua tetap terpelihara," ujarnya.
Selain memperkuat sektor pendidikan, keberadaan STKIP Papua juga diyakini dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Dana pendidikan dan berbagai program beasiswa yang selama ini banyak digunakan mahasiswa untuk kuliah di luar daerah diharapkan dapat berputar di Papua dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Ke depan, STKIP Papua tidak hanya menargetkan penambahan program studi dan fakultas baru, tetapi juga berambisi meningkatkan status kelembagaan menjadi universitas pada tahun 2027.
Langkah tersebut diharapkan semakin memperluas akses pendidikan tinggi bagi generasi muda Papua serta memperkuat peran Papua sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia di kawasan timur Indonesia.