SENTANI | Papuareels.id – Ondofolo Kampung Asei Besar, Marthen Ohee, menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan manfaat langsung bagi keluarga, terutama dalam membantu memenuhi kebutuhan makanan dan gizi anak-anak.
Menurut Marthen, keberadaan MBG membantu orang tua yang memiliki kesibukan bekerja, baik di kantor maupun berkebun, karena anak tetap mendapatkan makanan saat berada di sekolah.
“Orang tua sibuk dengan pekerjaannya, misalnya di kantor, buru-buru mau ke kantor dan tidak masak, anaknya tidak makan. Tapi ketika datang dari sekolah, ada yang bikin. Itu salah satu keuntungan yang harus disyukuri,” ujar Marthen.
Ia mengatakan, manfaat tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat perlu melihat MBG secara utuh dan tidak hanya berdasarkan persoalan yang terjadi dalam pelaksanaannya di satu lokasi.
Marthen yang mengaku sebagai salah satu penasihat di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Taker mengatakan, setiap dapur yang telah diverifikasi harus memenuhi standar Badan Gizi Nasional (BGN).
Karena itu, menurutnya, apabila terjadi persoalan seperti dugaan keracunan makanan, sumber masalah harus terlebih dahulu ditelusuri secara menyeluruh.
“Masalah di tempat lain tidak bisa dikaitkan ke tempat lain. Lihat dulu terjadinya di mana. SOP-nya harus ditinjau, termasuk bangunan dan lahan yang digunakan, apakah memenuhi syarat atau tidak,” katanya.
Ia menegaskan bahwa persoalan dalam pelaksanaan tidak serta-merta berarti program MBG yang salah.
“Programnya tidak salah. Program ini program nasional untuk meningkatkan gizi anak-anak. Ini untuk mensejahterakan rakyat. Jadi program tidak salah, yang salah manusia dan aturannya,” tegasnya.
Marthen juga menyoroti munculnya penolakan terhadap MBG. Ia menduga terdapat muatan atau kepentingan lain yang ikut memengaruhi sebagian masyarakat.
Menurutnya, masyarakat pada dasarnya dapat merasakan manfaat MBG sehingga persoalan yang muncul seharusnya menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program.
Ia juga menyampaikan dugaan pribadinya mengenai kejadian di Depapre. Marthen menilai kemungkinan adanya unsur kesengajaan perlu diperiksa, termasuk dugaan makanan sengaja diberi racun untuk memunculkan penolakan terhadap MBG.
“Kalau menurut saya secara pribadi, kejadian di Depapre itu ada unsur kesengajaan karena muatan tadi. Salah satunya sengaja dikasih racun ke anak, MBG-nya ditolak,” ungkapnya.
Namun, ia menekankan bahwa sumber persoalan harus dicari dan dibuktikan melalui pemeriksaan.
Marthen kembali mengatakan bahwa tujuan MBG bukan hanya menyasar anak yang sudah bersekolah, tetapi juga bagian dari perhatian pemerintah terhadap pemenuhan gizi sejak masa kehamilan.
“Program ini memperhatikan anak sejak dari rahim. Ibu hamil pun dikasih program. Jadi ini untuk mensejahterakan rakyat dan meningkatkan gizi anak-anak,” pungkasnya.