Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Cenderawasih saat melaksanakan pendampingan bagi guru SMA Negeri 1 Sentani, Kabupaten Jayapura, dalam merancang pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) berbasis Artificial Intelligence (AI) adaptif.
JAYAPURA | Papuareels.id – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Cenderawasih melaksanakan pendampingan bagi guru SMA Negeri 1 Sentani, Kabupaten Jayapura, dalam merancang pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) berbasis Artificial Intelligence (AI) adaptif.
Kegiatan bertajuk “Pendampingan Rekayasa Didaktis dalam Merancang Pembelajaran STEM dan Adaptive AI” ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kompetensi guru dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, inovatif, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.
Workshop dilaksanakan pada 17 Juni 2026 dengan melibatkan 30 peserta. Berbeda dengan pelatihan yang hanya berorientasi pada penyampaian materi, kegiatan dirancang secara partisipatif dengan menempatkan guru sebagai perancang pembelajaran.
Peserta diajak mengidentifikasi persoalan nyata di lingkungan sekolah, menghubungkannya dengan berbagai disiplin STEM, menyusun aktivitas pembelajaran, merancang asesmen, serta memanfaatkan AI sebagai mitra dalam proses perancangan.
Ketua tim PkM, Makmum Ashari, S.Pd., M.Pd., bersama Dr. Alfred Alfonso Antoh, S.Hut., M.Si. dan tim pendamping, mengarahkan kegiatan pada penguatan rekayasa didaktis serta penggunaan AI secara pedagogis.
Dalam pendekatan ini, AI tidak ditempatkan sebagai pengganti guru, tetapi sebagai alat bantu untuk menghasilkan alternatif ide, aktivitas, asesmen, maupun rancangan pembelajaran yang kemudian tetap ditelaah dan disesuaikan oleh guru dengan karakteristik peserta didik dan kondisi sekolah.
Salah satu keluaran utama kegiatan adalah empat desain pembelajaran STEM yang dikembangkan berdasarkan persoalan nyata di lingkungan sekolah.
Kelompok pertama mengembangkan proyek klasifikasi sampah plastik dan organik di kantin sekolah melalui purwarupa edukatif 3D.
Kelompok kedua merancang pojok baca kreatif untuk meningkatkan minat membaca siswa. Sementara itu, kelompok ketiga mengembangkan media pengingat kreatif untuk meningkatkan kerapian rambut siswa di sekolah.
Kelompok keempat mengangkat isu aktual melalui proyek “Kompos Cerdas: Mengolah Sisa Makanan MBG Menjadi Kompos Bernilai”. Pada proyek tersebut, sisa makanan dari program Makanan Bergizi Gratis dirancang menjadi sumber belajar yang mengintegrasikan Biologi, Fisika, Kimia, Ekonomi, dan Geografi, disertai kegiatan desain alat, pengujian pH kompos, dan pemanfaatan hasil kompos di lingkungan sekolah.
Keempat rancangan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk pamflet desain pembelajaran sehingga mudah dipahami, dipresentasikan, serta dapat menjadi inspirasi bagi guru lainnya. Produk visual hasil kerja guru juga memperlihatkan bagaimana persoalan keseharian di sekolah dapat dikembangkan menjadi pembelajaran berbasis pemecahan masalah.
Hasil evaluasi menunjukkan capaian positif. Penilaian dilakukan terhadap enam aspek, meliputi identifikasi masalah, integrasi STEM, aktivitas rekayasa, pemanfaatan AI dan teknologi digital, kriteria dan batasan proyek, serta asesmen pembelajaran.
Dari skor maksimum 24, rata-rata produk peserta mencapai 19,25 atau 80,21 persen. Dua kelompok bahkan memperoleh skor 23 dari 24 atau 95,83 persen. Kemampuan peserta paling menonjol berada pada aspek identifikasi masalah kontekstual, sedangkan integrasi unsur STEM menjadi salah satu bagian yang masih perlu diperkuat melalui pendampingan lanjutan.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa guru tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai STEM dan AI secara konseptual, tetapi telah mampu menerjemahkan gagasan tersebut menjadi rancangan pembelajaran yang dapat dikembangkan lebih lanjut untuk diterapkan di kelas.
Pendampingan juga menekankan pentingnya penggunaan AI secara kritis. Hasil yang dihasilkan AI tidak digunakan secara langsung, tetapi harus ditelaah, dikritisi, dan disesuaikan kembali dengan tujuan pembelajaran, kondisi sekolah, serta karakteristik siswa. Dengan demikian, keputusan pedagogis tetap berada di tangan guru.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena survei awal terhadap guru menunjukkan bahwa 91,30 persen guru telah mengenal teknologi AI tetapi belum memanfaatkannya untuk mendesain pembelajaran, sementara seluruh responden menyatakan membutuhkan pendampingan terkait STEM dan AI adaptif.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya Universitas Cenderawasih memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Jayapura. Dalam rancangan program, pendampingan diarahkan tidak hanya pada peningkatan keterampilan guru, tetapi juga pada pengembangan perangkat ajar serta penguatan ruang kolaborasi antarguru.
Melalui kegiatan ini, guru diharapkan semakin mampu memanfaatkan persoalan nyata di sekitar sekolah sebagai sumber belajar, mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu melalui STEM, serta menggunakan kecerdasan artifisial secara tepat untuk mendukung pembelajaran yang lebih adaptif dan bermakna.