-->

Notification

×

Iklan Jayapura Kab

Iklan

Tag Terpopuler

Gelar Pesta Makan Babi, Ondo Septinus Tegaskan Berbeda dengan Film Dokumenter Pesta Babi

15 Juni 2026 | Juni 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-15T11:03:55Z
SENTANI |  Papuareels.id – Ondofolo Atamali, Septinus, menegaskan bahwa tradisi pesta makan babi yang digelar bersama masyarakat di Sentani memiliki makna dan tujuan yang berbeda dengan gambaran yang ditampilkan dalam film dokumenter Pesta Babi.

Menurut Septinus, pesta makan babi yang dilaksanakan merupakan tradisi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Sentani dan menjadi sarana mempererat persaudaraan, menyampaikan nasihat adat, serta membahas berbagai persoalan pembangunan dan kehidupan sosial masyarakat.

"Saya secara pribadi mengadakan pesta makan babi ini tidak ada hubungan dengan apa yang ada dalam film itu. Saya ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa di Sentani juga ada pesta makan babi yang dilakukan dalam berbagai momen, seperti upacara adat maupun pembahasan pembangunan. Semua itu memiliki tujuan yang positif," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi masyarakat Sentani, pesta makan babi bukan sekadar kegiatan makan bersama. Tradisi tersebut menjadi forum adat yang mempertemukan seluruh warga untuk mendengarkan arahan dan nasihat dari Ondofolo sebagai pemimpin adat.

Dalam kegiatan itu, seluruh lapisan masyarakat dilibatkan, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Melalui momentum tersebut, masyarakat diberikan pemahaman mengenai aturan adat, kehidupan bermasyarakat yang baik, serta pentingnya menjaga persatuan dan ketertiban di lingkungan kampung.

"Semua masyarakat dilibatkan. Mereka berkumpul dan Ondofolo memberikan arahan tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Tujuannya agar masyarakat terhindar dari berbagai hal negatif dan tetap menjaga nilai-nilai adat yang diwariskan oleh leluhur," katanya.

Selain menjadi sarana pembinaan masyarakat, pesta makan babi juga dimanfaatkan untuk menyampaikan berbagai informasi terkait pembangunan serta aturan pemerintah yang berlaku.

Menurut Septinus, tradisi tersebut menjadi media komunikasi yang efektif antara pemimpin adat dan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa nilai utama yang terkandung dalam pesta makan babi adalah kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap adat, serta penguatan hubungan sosial antarwarga.

Karena itu, Septinus mengajak masyarakat untuk tidak menyamakan tradisi pesta makan babi yang hidup dalam budaya Sentani dengan narasi yang berkembang dalam film dokumenter Pesta Babi.

"Kegiatan ini juga dilakukan untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat agar tidak terpengaruh oleh paham atau pengaruh negatif yang muncul dari film dokumenter Pesta Babi.

Apa yang kami lakukan di Sentani adalah tradisi adat yang memiliki nilai positif dan sudah dilaksanakan secara turun-temurun," tegasnya.

Menurut Septinus, film dokumenter tersebut tidak mencerminkan praktik budaya yang dijalankan oleh masyarakat adat Sentani.

Ia menilai tradisi pesta makan babi yang sesungguhnya lebih menitikberatkan pada pendidikan adat, pembinaan masyarakat, serta penguatan persaudaraan.

"Saya sudah pernah menyampaikan kepada masyarakat bahwa film itu hanya sebatas cerita yang tidak mencerminkan tradisi yang kami jalankan. Tradisi pesta babi di Sentani adalah sarana memperkuat persaudaraan, menyampaikan pesan adat, dan membangun masyarakat," ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, Septinus berharap masyarakat dapat memahami perbedaan mendasar antara tradisi pesta makan babi yang diwariskan leluhur dengan gambaran yang muncul dalam film dokumenter.

Ia menegaskan bahwa tradisi tersebut merupakan bagian dari budaya yang mengajarkan persatuan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
×
Berita Terbaru Update