Para Tokoh adat Kabupaten Jayapura saat menggelar Konferensi Pers di SENTANI, Rabu (12/8/2026).
SENTANI – Belasan tokoh adat atau ondofolo di Kabupaten Jayapura kompak menyerukan masyarakat agar tidak terprovokasi dan tidak terlibat dalam rencana aksi demonstrasi yang disebut akan digelar Komite Nasional Papua Barat (KNPB) pada 15 Agustus 2026.
Seruan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Sentani, Rabu (12/8/2026), sebagai respons atas rencana aksi tersebut sekaligus ajakan kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan kedamaian di Tanah Papua.
Para tokoh adat menegaskan, masyarakat memiliki hak menyampaikan aspirasi, namun penyampaian pendapat harus dilakukan secara damai, tertib, beretika dan menghormati hukum serta norma adat. Mereka menolak segala bentuk tindakan anarkis yang berpotensi merugikan masyarakat.
Konferensi pers tersebut dihadiri Anderson Tokoro (Ondofolo Kampung Adat Homfolo), Yacob Fiobetauw (Ondofolo Kampung Puay), Marthen Ohee (Ondofolo Kampung Asei Besar), Harly Ohei (Ondofolo Dasim Kleubleuw), Nikodemus Yaboysembut (Ondofolo Kampung Sabron Sari), Bernard Felle (Ondofolo Kampung Yobeh), Jhon Fiktor Monim (Ondofolo Kampung Putali), Septinus Ibo (Ondofolo Kampung Atamali), Korneles Doyapo (Ondofolo Kampung Abar), Livin Ibo (Penerus Ondofolo Kampung Hobong), Agus Sokoy (Ondofolo Kampung Yobeh), dan Arlius Wally (Utusan Ondofolo Kampung Babrongko).
Kehadiran belasan pemimpin adat tersebut menunjukkan adanya perhatian serius dari masyarakat adat terhadap situasi keamanan menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.
Ondofolo: Jangan Sampai Masyarakat Jadi Korban
Ondofolo Dasim Kleubleuw, Harly Ohei, mengimbau masyarakat Kabupaten Jayapura maupun Kota Jayapura untuk tidak ikut dalam aksi yang berpotensi berujung pada tindakan anarkis.
“Saya mengimbau kepada masyarakat umum yang ada di Kabupaten Jayapura maupun Kota Jayapura untuk tidak ikut dalam kegiatan aksi demo tersebut. Jangan sampai ujung-ujungnya terjadi tindakan anarkis yang justru merugikan kita semua,” ujar Harly.
Ia mengajak masyarakat menjaga kerukunan dan tidak membiarkan perbedaan kepentingan memecah persatuan.
“Tujuan kita satu, bagaimana membawa Negara Republik Indonesia ini dengan damai di Tanah Papua. Kita harapkan Papua tetap dalam keadaan damai,” katanya.
Martin Ohee: Lebih Baik Urus Keluarga
Ondofolo Kampung Asei Besar, Marthen Ohee, meminta masyarakat tidak melibatkan diri dalam kegiatan yang dinilai tidak memberikan manfaat bagi kehidupan mereka.
Menurutnya, masyarakat sebaiknya memprioritaskan keluarga dan pekerjaan daripada terlibat dalam kegiatan yang berpotensi menimbulkan persoalan.
“Jangan melibatkan diri dalam kegiatan yang tidak ada untungnya. Kita tidak tahu ujung pangkalnya. Lebih baik urus diri, urus istri dan anak, serta mencari makan daripada mengikuti kegiatan yang tidak menguntungkan,” tegas Marthen.
Ia menegaskan masyarakat adat tidak pernah memberikan dukungan terhadap tindakan yang dapat mengarah pada kerusuhan atau anarkisme.
“Walaupun mengatasnamakan masyarakat Orang Asli Papua, dari adat bilang tidak. Itu hanya keinginan sekelompok orang. Kami masyarakat adat tidak pernah memberikan dukungan untuk tindakan-tindakan seperti itu,” ujarnya.
Anderson Tokoro: Aspirasi Boleh, Anarkis Jangan
Sementara itu, Ondofolo Kampung Adat Homfolo, Anderson Tokoro, mengingatkan seluruh masyarakat yang tinggal di Kabupaten Jayapura agar menghormati adat dan aturan yang berlaku di atas tanah tersebut.
“Kami tidak memusuhi siapa-siapa. Kami cuma meminta agar siapa pun yang tinggal di dalam rumah kami harus menghargai kami sebagai pemilik rumah ini, sebagai tuan di negeri ini,” kata Anderson.
Menurutnya, masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi. Namun, aksi tersebut harus dilakukan secara tertib dan bermartabat.
“Kalau boleh berdemonstrasi, tetapi demonstrasi yang beretika dan punya adab. Hadirkan sopan santun menyampaikan setiap aspirasi. Jangan ada sikap anarkis yang ditunjukkan di atas tanah ini,” tegasnya.
Anderson juga mengajak masyarakat menjaga semangat persatuan dan kebangsaan.
“Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan kita dan Merah Putih adalah lambang bendera kita. Kita harus memiliki jiwa NKRI yang sejati,” ujarnya.
Yacob Fiobetauw: Jangan Terjebak Provokasi
Ketua Peradilan Adat Dewan Adat Sentani yang juga Ondofolo Kampung Puay, Yacob Fiobetauw, mengajak seluruh masyarakat dari berbagai suku bangsa yang berdomisili di Kabupaten Jayapura untuk bersama-sama menjaga situasi tetap aman, tenteram dan damai.
“Budaya kami adalah rumah kami, rumah kita bersama. Karena itu, mari saling menjaga perdamaian agar masyarakat kita dapat menyambut perayaan Republik Indonesia dengan penuh sukacita,” kata Yacob.
Ia meminta masyarakat tidak mudah terjebak maupun terprovokasi oleh ajakan atau isu yang berpotensi mengganggu keamanan dan persatuan.
“Saya mengimbau seluruh masyarakat agar tidak terjebak dan tidak terprovokasi dengan ajakan atau isu-isu yang merusak negara kita Republik Indonesia,” ujarnya.
Yacob berharap momentum HUT ke-81 RI menjadi kesempatan bagi seluruh masyarakat Papua, khususnya Kabupaten Jayapura, untuk memperkuat persaudaraan dan hidup berdampingan secara aman dan damai.
“Mari kita merayakan 81 tahun Negara Republik Indonesia dengan penuh sukacita agar kita bersama-sama hidup aman, tenteram dan damai di atas tanah Papua yang kita cintai ini,” pungkasnya.