Ondofolo Kampung Kwadeware Nikson Marweri dan Ondofolo Kampung Puay Yacob Fiobetauw menyatakan kesiapan menyediakan lahan guna mendukung program ketahanan pangan Presiden Prabowo.
SENTANI – Tokoh adat di Kabupaten Jayapura, Papua, menyatakan dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui rencana pemanfaatan lahan tidur menjadi kawasan pertanian produktif, dengan Ondofolo Kampung Kwadeware Nikson Marweri menyiapkan lahan awal sekitar 20 hektare dan Ondofolo Kampung Puay Yacob Fiobetauw menyatakan kesiapan menyediakan lahan sekitar 100 hektare.
Kedua tokoh adat tersebut berharap pemerintah pusat dan pemerintah daerah memberikan dukungan berupa bantuan anggaran, sarana produksi pertanian, bibit, pupuk, alat pertanian, serta pendampingan teknis agar potensi lahan yang tersedia dapat dikelola secara optimal.
Ondofolo Kampung Kwadeware, Nikson Marweri, mengatakan lahan yang selama ini belum dimanfaatkan akan dikembangkan bersama warga nusantara melalui pembentukan kelompok pertanian.
Pada tahap awal, pengembangan mencakup sekitar 20 hektare, dengan peluang perluasan hingga lebih dari 30 hektare apabila tersedia dukungan anggaran dan tenaga kerja.
“Kami punya lahan yang luas di belakang rumah. Daripada dibiarkan menganggur, kami ingin mengembangkan pertanian bersama warga dari Nusantara. Kami bersatu membentuk kelompok pertanian untuk mendukung program Bapak Presiden,” ujar Nikson saat ditemui di Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (16/10/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah komoditas yang direncanakan untuk dibudidayakan meliputi cabai atau rica, bawang, tomat, serta buah-buahan seperti semangka dan melon.
Menurutnya, pengembangan pertanian tersebut merupakan langkah konkret untuk memperkuat ketersediaan pangan masyarakat sekaligus membantu menghadapi perubahan harga kebutuhan pokok.
Karena itu, ia berharap pemerintah memberikan dukungan dana, terutama untuk pengadaan pupuk dan kebutuhan tenaga kerja agar lahan yang tersedia dapat diolah secara maksimal.
Ia juga menyampaikan bahwa Dinas Pertanian Provinsi Papua telah berkunjung dan memberikan dukungan terhadap rencana pengembangan tersebut. Bantuan alat pertanian seperti traktor dan penyediaan bibit menjadi bagian dari dukungan yang diharapkan untuk merealisasikan program itu.
Selain pengembangan pertanian, Nikson turut menyoroti pentingnya penataan peternakan di kampungnya. Ia berharap masyarakat yang memelihara ternak, khususnya sapi, dapat mengandangkannya agar tidak berkeliaran dari rumah ke rumah dan mengganggu aktivitas warga.
Ia berharap Kampung Kwadeware dapat menjadi contoh dalam mengubah lahan tidur menjadi lahan produktif yang memberikan manfaat ekonomi dan mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Yacob Fiobetauw Siapkan 100 Hektare
Sementara itu, Ondofolo Kampung Puay, Yacob Fiobetauw, menyatakan kesiapan mendukung program ketahanan pangan nasional melalui penyediaan lahan sekitar 100 hektare yang direncanakan untuk pengembangan pertanian produktif.
Yacob mengatakan, Papua, khususnya wilayah Sentani, memiliki potensi lahan yang luas. Namun, potensi tersebut perlu didukung dengan pendampingan dan perhatian serius dari pemerintah agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami di Papua, khususnya di Sentani, sebenarnya memiliki ketersediaan lahan yang sangat banyak. Kami hanya membutuhkan bimbingan dan dukungan pemerintah agar potensi lahan yang luas ini bisa dimanfaatkan untuk menunjang program Presiden dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” katanya.
Ia menegaskan, para pemimpin adat di tingkat kampung siap mengambil bagian dalam menyukseskan program pemerintah dengan menggerakkan masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang selama ini belum dikelola secara optimal.
Menurutnya, dukungan pemerintah sangat diperlukan, mulai dari penyediaan sarana produksi pertanian hingga pendampingan teknis, sehingga lahan yang disiapkan dapat dikelola secara berkelanjutan.
Yacob juga melihat pengembangan pertanian di Sentani memiliki peluang untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hasil pertanian masyarakat nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pasokan bahan pangan bagi dapur-dapur penyedia makanan bergizi.
“Kami berharap ada pendampingan dari pemerintah pusat maupun daerah kepada para pemimpin adat di kampung. Dengan begitu, lahan yang tersedia bisa dikelola untuk menghasilkan pangan dan nantinya dapat menyuplai kebutuhan dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.
Ia menilai, keterlibatan masyarakat adat dalam pengembangan ketahanan pangan dapat membuka peluang ekonomi bagi warga sekaligus memperkuat ketersediaan pangan lokal.
Karena itu, ia meminta pemerintah memberikan perhatian serius kepada para pemimpin adat yang telah menyatakan kesiapan menyediakan lahan untuk mendukung program nasional tersebut.
Yacob menegaskan, pihaknya siap bekerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan potensi pertanian yang ada di wilayahnya. Namun, kesiapan lahan tersebut perlu diikuti dengan dukungan nyata agar proses pengolahan, penanaman, hingga pemanfaatan hasil pertanian dapat berjalan dengan baik.
Dengan adanya inisiatif dari Ondofolo Kampung Kwadeware dan Ondofolo Kampung Puay, potensi lahan di wilayah Sentani diharapkan dapat dikembangkan menjadi kawasan pertanian produktif yang mendukung ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat, serta membuka peluang pasokan bahan pangan lokal untuk program-program pemerintah, termasuk MBG.